Ku akhiri Insomnia malam ini dengan Puisi
Maka datanglah subuh sebagai awal dari penciptaan pagi.
Kututup lembar malam ini dalam hitungan rakaat
Episode hidup
Hari berganti
Selalu ada yang tertinggal
Sekeping hati.
Maka di situs ini kutitipkan puisi
Sebab ragaku akan kembali menantang hari
Menghargai kenyataan:
Datang dan pergi…
Lahir dan mati…
-Nazrul Alfiansyah-
Agar kau lelap
Kepada malam aku resah
Aku tuliskan karena aku resah
Kiranya akan terlihat bagimu keresahan yang muntah
Aku yang resah telah menulis kepada malam
Agar matamu terpejam dan kau pun seketika lelap diatas selembar kertas
10 Agustus 2008 kini telah terbilang pada ruang dimensi usang.
Tragedi
TRAGEDI
Cinta itu bertepuk sebelah tangan
Hanya meninggalkan sejuta tangisan
Aku meratap menangisi
luka hati
Kau pergi tak perduli
Berdamping dengan sang kekasih
Tak pernah tahu
Hatiku mati karena kau
Pernahkah kau sadari
Pernahkah kau pahami
Waktu akan menjawab
Betapa sakit teramat
yang kurasakan hingga tak mungkin
berpugar
/*Created Mei `08, Dedicated for myself. Thanks for Allah SWT for the power of life.
Sajak suatu ketika
Ini tubuh dihening angan malam yang entah kenapa enggan menerawang.
Bimbangku telah menunggu pada batas imaji.
Namun, biarlah vanadis yang membawanya bersama menghampiri erros dan agape lalu kembali sadarkan penghuni ini jiwa walau masih nyaman pada sudut ruang hampa.
Berkata-kata:
“Tatap matanya adalah ingatan, “bulan dan bintang-gemintang”.
“Ia sapa pekat-pekat malam yang berdiri bungkam diujung pemikiran.”
“Namun tidak aku seorang pemilik [...]
Menari sajalah ditengah rintiknya
Hujan yang turun pada kota kelahiran telah menggenang dalam ingatan.
Pernah kau berkata manis:
“Apa yang diratapi langit?”
Seketika tatap mataku pun nanar:
“Apa kau rasakan manis?, “menarilah ditengah rintiknya.”
(seperti ini jiwa turut tergetar mendengar senandung guntur menggelegar)
“Aku menyebutnya simphoni manis”
(sepanjang usia bumi, penyejuk jiwa-jiwa bagi insan sisa-sisa)
“Ya, sudahlah manis”
“Kiranya jangan lagi kita reka-reka”
“Ah, mungkin kau dan aku terlalu [...]

