Bernegosiasi dengan “EGO”
Kesimpulan dari konferensi tadi malam memang sedikit nyeleneh, ya paling tdk seperti inilah kesimpulannya:
Kadang kita terjebak pada ego dan ego tsb seakan-akan memberikan kita gagasan-gagasan yg sepertinya benar-benar kita nikmati. Namun diluar itu semua bayangan org-org yg merasa di rugikan oleh ego kita tadi berbaris berjejer menunggu hanya untuk memvonis kita, situasi tsb seperti semacam pembalasan bagi kita. Tak jarang pula terkadang kita juga mengomentari ego kita sendiri agar ego-ego yg lahir di kemudian hari bisa lbh kreatif, dan lbh ber-improvisasi. Harapannya tentu saja ego-ego yg lahir di kemudian hari bisa mendapat penghargaan atawa puji-pujian yg notabene memabukkan. Situasi seperti itu lantas membuat kita si pemilik jiwa raga menjadi addict untuk menuruti hasrat memperoleh lbh banyak penghargaan, dalam bentuk makian tentunya. Teman-temanku, beranikah kau bernegosiasi dgn egomu?
Beranikah kau?
-Nazrul Alfiansyah-

