Antarkita

Celoteh tentang apa saja.
Solidaritas untuk anak Indonesia

Apin

Medan, 18 Agustus 1982 aku hadir ke dunia dengan menyandang gelar Nazrul Alfiansyah. Dibesarkan di kota ini dan di kota ini pula adalah awal dari satu langkah mungil seorang Apin kecil yang kemudian tumbuh dewasa bertarung di dalam hitam-putihnya kisah untuk tetap terus melangkah meniti hari, menikmati hari, dan menyelamatkan hari.

Sampai detik ini mataku tak bosan-bosannya menantang sayat tajam pijar matahari. Aku boleh murung jika langitku terlihat mendung, dan berucap syukur sedalam air hujan yang tajam menusuk bumi.

Terimakasih yang begitu mulia kepada orangtua yang telah tulus ikhlas mengajarkan kepada anaknya agar tidak takut turun kejalan, membaur bersama angin, debu, polusi, terjalnya tebing, derasnya jeram, angkuhnya gunung, laut, dan segala isi dunia.

Mengecap kedalam sanubari semua hal-hal yang telah aku pelajari, aku pahami dari keingintahuan yang memberiku keberanian, hak dan kekuatan untuk berkolaborsi dengan abstraknya perilaku otodidak. Mengenal apa itu angkara-murka, damai dan cinta, menghargai nama besar perbedaan, pemahaman etika hidup, dan sudut pandang sisi ketuhanan.

Tak ada yang spesial dariku yang telah mengaku manusia dan beragama. Bahkan hampir tak ada yang membedakan kita selain kemunafikan dan buasnya nafsu keduniawian. Aku selalu mencari-cari hakiki dan hakikat, apakah itu tersirat dari ayat-ayat sufi yang tersurat atau juga dari hal-hal lainnya. Haus akan kebenaran dan seberapa benar aku, kau, dan orang-orang men-deskripsikan sang kebenaran itu sendiri.

Apa yang kucari dalam ilmu pengetahuan, apa yang aku pelajari dari sebuah ke-ikhlasan, apa yang kucari ketika tarikan nafas menghembus layar perahu kehidupan. Ini tentangku, bukan tentang perjuangan mencari-cari kesempurnaan atau pula kelemahan dari sebuah kesempurnaan. Dan masih tentang kesempurnaan yang melontarkan pertanyaan-pertanyaan sempurna kepada pikiran, ucapan, dan tindakan. Atau mungkin keindahan sebuah wujud, suara, dan sesuatu hal yang mampu membuatku, kau, dan orang-orang terpukau lantas mabuk kepayang. Adakah itu semua kita sebut sempurna?

Di akhir stanza teruntuk buku-buku yang telah tewas aku baca. Mohon maaf jika diantara kalian belum ada satupun yang mampu membuatku tewas seketika. Inilah semua! Tak ada yang spesial dariku, apalagi untukmu. Teruslah memberiku inspirasi agarku tetap berkarya dan berpikir merdeka. FREE UP YOUR MIND! AND YOUR ASS WILL FOLLOW.